pada saat itu rinduku, cintaku kepadanya begitu memuncak. berlinang air mataku tanpa dapat kutahan. Ku menangis sejadi-jadinya, sendiri, menyepi. apalah dayaku? aku tak bisa lakukan apapun. Aku tak berkutik. nggak ada yang bisa aku lakukan selain…..
hatiku porak poranda. tubuhku lemas. Apa yang bisa aku lakukan? Untuk bangkit pun terasa berat sekali. Kuserahkan semua rasa ini pada Yang Maha Kuasa. hidup matiku bukan milikku.
Sejenak kupikir-pikir, mengapa hatiku sakit sekali? karena aku merasa kehilangan. mengapa merasa kehilangan? Tentu karena merasa memilki. Hanya orang yang memilikilah yang bisa merasa kehilangan. hanya orang yang memiliki uanglah yang bisa kehilangan uang. Hanya orang yang memilki kekasihlah yang bisa kehilangan kekasih.
Ya ampun……
Naif banget sih aku. Lihat tya! hidup mati kamu bukan milik kamu. Ngapain sih musti ngerasa seolah-olah dia milik kamu sepenuhnya? Kalo ja aku nggak merasa memilki dia, tentu aku nggak akan sesedih ini. hanya saja bagaimana caranya agar rasa memilki ini lenyap dari hatiku?
“Ya Allah! Betapa kumuhnya hatiku! Milik-Mu itu selama ini telah kuakui sebagai milikku. Sungguh aku tak tau diri. Kini kucoba tuk kembalikan dia kepada-Mu. Ya Allah! Terimalah pengembalianku ini. Dan sucikanlah kembali kalbuku.”
“Ya Allah! Engkau MAha Tahu. Kau tahu isi hatiku. KAu tahu siapa yang aku hasrati. Akal sehatku memang berkata dan mengingatkan aku bahwa dia Milik-Mu. tapi, hati kecilku berbisik dia terlalu indah untuk kelepaskan. haruskah aku lupakan dia? Manakah jalan yang baik bagi semuanya?
“Ya Allah! Kenikmatan insani, yang pernah Ku pinjamkan kepadaku melalui kedekatan kami berdua, selalu membayangi hari-hariku, malam-malamku, dan setiap detik waktuku. Wajahnya, suaranya, senyumnya, kasih sayangnya, cintanya, semuanya begitu indah. Ku kembalikan dia padaMu Ya Allah….”
Dalam keheningan kutatap kegagalanku dalam membina hubungan cinta dengannya. Air mata mengalir. Dalam keheningan, ku akui betapa pedihnya putus hubungan dengannya. Dalam keheningan, kukuras lubuk hatiku sedalam-dalamnya. Ya Allah ampunilah aku. Betapapun kotornya hatiku, Engkau Maha Menyucikan. Ya Allah sayangilah aku. Betapapun besartnya hasratku untuk memperoleh cintanya, kasih sayangmu lebih aku butuhkan. Ya Allah sehatkanlah aku. Betapapun pedihnya luka jiwaku, Engkau Maha Menyembuhkan.
tya,,,meskipun dia begitu indah, dia bukanlah Sang Maha Indah. Mungkin, maksud-Nya supaya aku menjadi manusia baru, yang lebih baik dari yang sudah sudah.
“YA Allah seandainya mengingat-ingat dia bisa menjauhkan aku dari kebaikan, lenyapkanlah dari benakku segala kenangan tentang dia, betapapun manisnya. Tapi, seandainya mengingat-ingat dia mendekatkan aku dengan kebaikan, peliharalah dibenakku segala kenangan tentang dia, betapun pahitnya.
Mungkin, saat ini, jalan terbaik agar dia bahagia adalah mengalah untuknya. Biarkan dia bahagia. Menyayanginya adalah memberi kesempatan baginya untuk bahagia. (281208)
